Rabu, 13 November 2013

Rindu ke Muara Nauli

Masihol tu Muara

Monang Naipospos [ Memburu Mangga ke Muara ]
Kecamatan Muara di kabupaten Tapanuli Utara cukup terkenal dengan buah mangganya. Daerah ini memiliki potensi pertanian pangan (padi) plawija (bawang) perkebunan (mangga). Sejak memasuki daerah Muara dari Silangit, kita akan menebar pemandangan dan melihat pepohonan hijau terbentang hingga pulau nan indah Sibandang. Melewati Kota Muara menuju Lontung hingga Bakkara juga kita masih melihat pohon Mangga bertebar di sisi jalan.

Bulan Januari ini musim mangga di Muara. Rencana berburu mangga sudah saya rencanakan sejak awal panen, namun selalu ada saja penghambat. Kemaren (Minggu 26/1) bersama teman saya Lambaik Manalu wartawan Batak Pos melaju ke Muara. Panorama indah tidak kami abaikan sembari melihat pohon mangga di tepi jalan. Wah, ini terlihat pohon mangga masih berbunga. Sempat ada rasa kecewa, kehabisan buah mangga “namalamum” yang sudah masak.
Menjelang Unte Mungkur dipinggir jalan kami melihat anak-anak kecil berjejer seraya menyapa “mangga tulang … mangga”. Mereka menawarkan mangga dagangan mereka yang ditempatkan didalam ember plastik dan kantongan plastik. Mereka cukup agresif memberi keyakinan pada kami untuk membeli mangganya itu. Saya melihat mangga itu agak kecil dan kulitnya kurang bagus, sebagian masih mengkal. Karena semangat dan kelucuan yang mereka lakonkan, saya jadi tertarik membeli dagangan mereka itu.
Ada boru Aritonang, boru Rajagukguk, Ompusunggu. Di beberapa kelompok cilik lain kami tidak sempat menanyai marga mereka. Begitu mereka tau kami dari Laguboti mereka tertawa dan sebagian tidak yakin. Paling tidak kami dianggapnya dari Medan atau Jakarta. Wah ….. apa kami ini kereeennnn! ;-)
“Mangga yang kulitnya hitam itu manis tulang”, jelas mereka meyakinkan saya saat memilih mangga yang baik untuk dicoba. Ternyata benar…. Hmmmm…. Maniss…. Enak…. Menakjubkan. Anda pernah menikmati mangga Muara ? Woooooww pasti anda meneteskan air liur.
Menjelang Muara kita melewati gapura alami dari pohon mangga di sisi kiri dan kanan jalan raya. Pohon mangga itu sekarang terlihat sudah termakan usia tua, tidak lagi rindang.
Kenapa buah mangga itu banyak yang busuk? Anak anak menjawab singkat. Kami tidak tau tulang. Kami tidak dari dalam, jadi tidak tau itu busuk. Itu jawaban anak kecil dan wajar. Namun jawaban dewasa harus mangkaji dulu, kenapa selalu begitu ?
Peningkatan kualitas mangga memang perlu dipikirkan untuk mampu menguasai pasar buah di Indonesia. Busuk mangga menjadi persoalan. Pengetahuan tradisional dari leluhur selalu mengatakan “Jangan memakan buah dekat pohonnya”. Semasa kecil saya berpikir, apa hubungannya? Kami dulu selalu membuat onggokan sampah rerumputan untuk dibakar dengan bara pada sore hari. Asap tanpa api mengebul mengitari sesisi kebun. Dengan kepatuhan tidak memakan buah di pohonnya dan membersihkan sekitar pohon dan menyingkirkan buah rusak yang jatuh ternyata meminimalkan buah busuk.
Sayang kami tidak sempat mengitari kebun mangga di Muara. Apakah dengan menerapkan pesan para orang tua untuk memelihara pohon berbuah dapat meningkatkan kualitas mangga di Muara?
Tidak ada fasilitas wisata musim mangga di Muara kami temukan. Setidaknya kami ingin masuk daerah kebun yang tertata rapi linglungan dengan fasilitas pendukung bagi pengunjung. Ada dua manfaat yang diharapkan wisatawan local ke Muara pada musim mangga. Makan mangga yang enak langsung dari kebunnya dan menikmati panorama indah danau toba.
muara_02.jpg muara_02a.jpg muara_03.jpg muara_04.jpg muara_05.jpg muara_06.jpg muara_07.jpg muara_08.jpg muara_09.jpg muara_13.jpg muara_14.jpg muara_15.jpg muara_16.jpg muara_17.jpg muara_18.jpg muara_19.jpg muara_20.jpg muara_21.jpg
Dibalik keindahan Muara..
Memandang dari atas buki ke Muara memang menakjubkan. Menelusuri punggung bukit menuju kota mangga itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Di beberapa tempat lokasi pandang memang sudah disediakan fasilitas memandang bagi peminat panorama danau toba. Tapi sayang, lokasi itu gersang, penataan tanpa sentuhan seni, tanpa pohon rindang. Bila panas terik, maka siaplah terpanggang sinar matahari.
Di kota Muara kita menamukan dua hotel. Salah satu hotel terbaru cukup megah, namun sepi penginap. Pantai Muara tidak menawarkan pengunjung untuk mandi dan bermain di perairan. Pantainya kotor, sisi pantai tidak terawat. Beberapa tempat yang landai yang justru diharapkan untuk wisata pantai justru banyak tumpukan eceng gondok. Wah … dimana mandinya ya ?
Pelabuhan Muara sudah ditambah fasilitas dermaga untuk kapal ferry. Kabarnya ferri line Nainggolan-Muara sudah direncanakan. Dermaga dengan dana miliaran rupiah itu terkesan kurang rapi, asal ada saja. Dermaga itu menampung limbah danau. Disekitar dermaga terlihat lumut air menjuntai menyeramkan seperti siap membelit. Kebersihan memang salah satu topik untuk dipelajari bagainama melakukannya. Sekuat apa kita berteriak untuk menawarkan panorama indah danau toba, bila hal kecil soal kebersihan diabaikan, itu menjadi slogan penyangga untuk ketidak hadiran wisatawan keduakalinya.
muara_10.jpg muara_11.jpg muara_12.jpg
NUNGA MARPARBUE MANGGA DI MUARA
nunga jumpang tingkina
marmutik mangga di balian
sinuan ni ompungta
tinamboran ni amanta dohot inanta
nunga leleng hupaima
las ma roha
dung mararumas parbuena
mongkol
marsipigo
unang rambasi nina angkang
asa denggan malamun
ringgas do nang ito mandulo
nunga malamun mangganta
hupaboa tu ito
dohot tu angkang
di nadao
dipangarantoan
asa manjangkit angkang
manutihi au ditoru
nunga malamun mangga di Muara
godang ma jolma ro
angka situhor mangga
hugadis do mangga di topi dalan
huingot do angkang dohot ito
dang huboto manongoshon
dang ro mangalap
masihol au tu angkang dohot ito
uju malamun mangga dihuta

Selasa, 12 November 2013

MEMANDANG MUARA NAULI

MUARA (EKSPOSnews): Pemandangan perbukitan menghijau, lembah curam dan—tentu saja—panorama keindahan Danau Toba yang membiru, tidak bisa lepas dari pandangan mata ketika memasuki wilayah Muara; sebuah kecamataan kecil di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Setidaknya, inilah yang dialami ketika memasuki kawasan Muara jika melakukan perjalanan lewat transportasi darat.
 
Selain itu, penjelajahan menuju kawasan yang memang identik dengan Danau Toba itu, juga dapat dilakukan dengan cara lain, yaitu dengan menumpang kapal angkutan kecil yang hampir setiap hari berangkat dari dermaga kapal Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), yang waktu perjalanannya akan memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Tentu saja penjelajahan lewat kapal ini, akan lebih dimanjakan dengan sajian-sajian pemandangan alam yang indah, juga sesekali akan terlihat beberapa nelayan yang sedang menebarkan jala-jala ikan di sekitar danau. Dan, inilah yang menjadi salah satu potret kehidupan penduduk pinggiran Danau Toba.

Pada hari tertentu, biasanya Kamis, dermaga Muara juga akan dipadati dengan kapal-kapal angkutan yang membawa para pedagang dari luar kecamatan, baik dari wilayah Tobasa, Samosir dan daerah lain. Kamis adalah hari pekan besar Muara. Pada hari itu, kota kecil Muara akan tampak ramai dengan hiruk pikuk pedagang, bongkar muat kapal, juga lalu lalang para pembeli yang datang dari desa-desa terpencil dengan menggunakan perahu-perahu kecil.

Selain sebagai waktunya berbelanja keperluan hidup mingguan bagi para penduduk, hari pekan itu juga menjadi hari di mana para petani dan nelayan akan menjajakan hasil usahanya untuk menyambung keperluan hidup sehari-hari.

Meski demikian, selain sebagai nelayan danau, mata pencaharian kecamatan yang terdiri dari 15 desa; dihuni sekitar 2.893 kepala keluarga (kira-kira 15.171 jiwa; mayoritas etnis Batak Toba) itu, hidup dari sektor pertanian, seperti padi dan sayur-sayuran.

Potensi pertanian lainnya adalah buah mangga. Selain di Muara, pohon mangga banyak terdapat di Pulau Bandang, yang letaknya tidak berapa jauh dari Muara, yang kemudian dikenal dengan Pulau Mangga.

Akan tetapi, ini juga menjadi ciri khas Muara, yang sudah biasa berlangsung dari tahun ke tahun. Biasanya antara bulan Agustus hingga September akan terjadi panen mangga besar-besaran. Mangga yang dikenal dengan Mangga Muara itu terkenal manis, meski buahnya kecil-kecil.

Tidak heran pula jika pada masa penen besar itu, wilayah lain akan turut kebagian getah menikmati manisnya buah mangga yang harganya tergolong murah. Mangga Muara malah kerab dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan yang sering berkunjung ke Parapat.

Potensi Wisata

Muara, kecamatan yang terletak di sebelah utara kawasan Danau Toba, seperti daerah lainnya yang berada di kawasan pinggiran Danau Toba, juga memiliki keindahan alam tersendiri. Tentu saja, potensi itu juga tidak kalah potensialnya jika dibandingkan dengan daerah lainnya itu, meski dilatarbelakangi kultur atau tradisi yang tidak jauh berbeda.

Tidak heran jika sejak lama Muara sudah ditetapkan sebagai salah satu kawasan wisata Sumut, yang secara khusus pengelolaan potensi itu diserahkan kepada kabupaten yang menaunginya, yaitu Tapanuli Utara (Taput).

Sebutan Muara Nauli, yang artinya Muara yang indah pun sebenarnya tidak meleset dari kenyataan. Sayangnya, sekadar memuji keindahan itu nampaknya tidak cukup. Butuh polesan lebih agar ia memberi arti, baik secara ekonomi maupun kultur sosial. Pasalnya, keindahan alam Muara yang penuh tantangan serta godaan panorama alamnya, juga hembusan anginnya yang menyejukkan itu, walau disebut-sebut sebagai salah satu objek wisata andalan Kabupaten Taput, ternyata hingga kini belum mendapatkan polesan dari pemerintah setempat.

Dibandingkan Parapat, Muara belum memiliki daya tarik atau keunikan tersendiri yang bisa dijual. Maka tidak heran jika gaungnya belum juga terlihat. Kalau hanya memandang panorama alamnya saja, wisatawan pasti cepat bosan. Di sisi lain, para wisatawan sebenarnya ingin melihat sesuatu yang mampu membuat mereka betah berlama-lama di Muara.

Danau Toba didiami oleh tujuh kabupaten yang dilatari budaya, bahasa, tradisi yang hampir sama. Nah, jika Muara tidak memberikan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah ada di daerah lain seperti Parapat, Tomok, Tuktuk, maka siapa lagi yang akan mengunjunginya.

Kendala lain, meski akses menuju Muara memang tidak hanya satu, namun hal itu masih menjadi masalah bagi wisatawan. Jarak Muara kira-kira 38 kilometer dari Kota Tarutung. Selain itu, meskipun Bandara Silangit (yang jaraknya hanya 11 kilometer dari Muara) telah hadir untuk menjawab masalah itu, namun belakangan langkah itu belum memberi arti penting untuk menarik wisatawan datang ke Muara.

Sibandang dan Hutaginjang

Muara bukan hanya Muara. Sebutan itu bukanlah isapan jempol belaka jika melihat potensi wisata yang ada di Kecamatan Muara. Sebut saja Pulau Sibandang, sebuah pulau kecil seluas kira-kira 1.119 hektare yang menjadi pulau kedua di tengah Danau Toba setelah Pulau Samosir itu, merupakan kawasan yang sejak lama sudah diperioritaskan untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata Taput.

Pulau Sibandang merupakan lokasi yang potensinya layak diperhitungkan. Lokasi Pulau Sibandang merupakan salah satu kawasan strategis dan memiliki prospek menjadi resor wisata air. Disebutkan bahwa di sekitar lokasi perairan merupakan lokasi strategis untuk berbagai aktivitas olahraga air seperti parasailing, ski air, jet ski, kano, sampan tradisional, dan renang.

"Daratan pulau ini juga layak dilirik sebagai tempat yang ideal untuk pertandingan tinju, pacuan kuda, atraksi budaya lokal, dan pembangunan lapangan golf." Demikian disebutkan dalam rencana program pembangunan kawasan Muara, yang merupakan salah satu bagian dari visi pembangunan daerah Taput itu.

Di Muara sendiri, saat ini sudah berdiri sebuah hotel dengan standar yang cukup memadai yang diharapkan akan menjadi titik awal berkembangnya penanaman modal di kawasan Muara.

Ajang kompetisi paralayang/gantole juga kerap dilaksanakan di kawasan Desa Hutaginjang, Kecamatan Muara. Kawasan Desa Hutaginjang adalah dataran tinggi Muara, yang memiliki curah angin cukup tinggi. Dari ketinggian itu, dilakukan start ajang kompetisi paralayang yang akan melintasi lokasi perairan Danau Toba yang akan finish di beberapa tempat seperti Pulau Sibandang maupun Desa Aritonang, yang merupakan salah satu desa budaya Muara. Muara memang jauh dari harapan, namun bukan tidak mungkin akan menjadi andalan pariwisata Taput, asalkan Pemda memberikan kemudahan kepada investor untuk membangun daerah itu. (em/dari berbagai sumber)


Akses berita terbaru versi mobile di: m.eksposnews.com

Selasa, 05 November 2013

TEMU KANGEN ANAK MUARA NAULI II

LINDUR SIBURIAN Horas angka dongan na di pangarantoan sian Muara. Beberapa teman yang peduli dengan muara membuat wacana temu kangen dan silaturahmi pada bulan desember akhir ini di Muara, sekaligus menjadi urung rembuk bagi optimalisasi potensi pemilihan caleg sian Muara. Mohon kesediaan teman teman agar acara ini bisa terealisasi.mauliate